Monday, 2 May 2011

PERI PENDUSTA (literature controversy novel)


Flash Point (narasi)

Aku melakukan sebuah perjalanan di kala sore merapat senja.
Seorang diri.
Sore yang cukup penat. Mentari masih bersinar cukup terik.
Namun jalanan yang kulalui telah sayup,
aku masih mengenakan darkbrown eye glassesku karena pendar cahayanya masih beradu dengan air conditioner di mobilku.
Membuat kulit coklatku terasa hangat. Kumelihat langit terbentang luas,
tanpa ada siluet pohon dan gundukan awan hitam yang menghadang,
membuatku fokus melihat tepi langit yang seperti tanpa ujung.
Betapa lega hatiku yang tadinya murung dan penuh sesak,
melihat langit luas yang seperti memberi janji.
Bahwa banyak kebahagiaan yang bisa ditempuh dengan seribu cara.

Ternyata kebahagian itu tidak hanya selalu di saat bersamanya...........

(sebuah roman sarkastik yang memlampui batas. berlatar belakang kota budaya jogjakarta dalam sisi gelap dunia abu-abu



it's gonna hit Jogja on Juni 2011

2 comments:

Anonymous said...

kapan beredar mas... pesen yo @anung

Raffendie said...

klo pesen pake DP...ha ha ha